“Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 % pintu rezeki”
Nabi Muhammad dan sebagian besar sahabat adalah para pedagang dan entrepreneur mancanegara. Tidak berlebihan karenanya bila dikatakan bahwa etos entrepreneurship sudah melekat dan inheren dengan diri umat Islam. Bukankah Islam adalah agama kaum pedagang, lahir di kota dagang (Makah), dan disebarkan ke seluruh dunia oleh kaum pedagang?. Dalam konteks sejarah dunia, etos bisnis umat Islam memang mengungguli etos bisnis bangsa manapun di dunia ini. Peter L. Bernstein (The Power Of Gold, John Wiley and Sons, 2000) secara ekplisit mengakui kehebatan bisnis pedagang muslim (Gatra, Oktober 2006).
Sejarah membuktikkan, kemajuan syiar Islam dari masa ke masa tidak terlepas dari sosok pedagang (entrepreneur) dari mulai zaman Nabi Muhammad SAW diutus menjadi seorang Rasul, beliau telah ditempa untuk menjadi seorang entrepreneur sejati, beliau telah 18 kali dalam usia mudanya melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Begitu juga dengan sebagian besar sahabat Nabi, mulai dari Abu Bakar Assidiq, Ustman Bin Affan, sampai dengan Abdurrahman bin Auf. Begitu juga dengan penyebaran Islam ke Indonesia abad ke 13 tidak terlepas dari jasa para saudagar muslim yang mendakwahkan nilai-nilai Islam. Maka tidak heran jika kebangkitan Islam di Indonesia pun tidak terlepas dari jasa-jasa para saudagar batik yang berafiliasi kedalam organisasi Syarikat Dagang Islam (SDI) melalui perkumpulan pedagang batik inilah kebangkitan Islam di Indonesia terjadi.
Melihat urgensinya semangat entrepreneurship di kalangan santri, maka sudah saatnya sekarang ini para santri diberikan bekal kemandirian, yaitu semangat entrepreneurship. Kita ketahui bersama intitusi pesantren adalah sebuah lembaga yang independent sebuah lembaga yang mengajarkan kemandirian kepada para santri di dalamnya.
Maka tidak heran jika saat ini banyak sekali usaha-usaha produktif sangat berkembang di lingkungan-lingkungan pesantren. Pesantren-pesantren memiliki unit-unit usaha di dalamnya dimana perputaran uang berjalan ratusan sampai dengan milyaran rupiah. Lihat saja pesantren Gontor, Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantern Darun Najah Jakarta mereka memiliki badan-badan usaha yang bergerak secara mandiri di dalamny dalam menjalankan roda perekonomian pesantren.
Salah satu nasehat yang terkenal dikatkan oleh KH. Imam Zarkasyi (1910-1985) ”Jangan jadi pegawai, jadilah orang yang punya pegawai”. Sudah tida terhitung banyaknya Pak Zar, begitu KH. Imam Zarkasyi biasa disapa, mengucapkan kata-kata itu ketika memberikan pandangan kepada para santrinya. Ia menasehati mereka agar tidak menjadi pegawai (negeri). Dalam setiap acara temu santri tahunan, nasehatnya itu adalah ”doktrin” wajib bagi santri Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (Gatra, 2006). Harapannya, agar santri Gontor, saat terjun di masyarakat, tida seedar menjadi ”robot birokrasi” dan ”penonton”. Pak Zar menantang mereka supaya berani tampil sebagai pemimpin, pelaku aktif, dan motor penggerak, yang memilii sikap mental mandiri, dan kreatif, sehingga memberikan manfaat kepada masyrakatnya. Dalam ungkapan lain, kerap juga dinyatakan agar santri Gontor, ”Jangan mencari pekerjaan. Tapi ciptakanlah lapangan pekerjaan”
Begitulah pesan dari KH. Imam Zarkasyi kepada para santrinya, seorang santri harus bisa mandiri, dan kemandirian itu bisa diwujudkan dengan menjadi seorang entrepreneur. Kemandirian itu bisa di wujudkan dengan memberdayaan lingkungan sekitarnya. Tidak heran memang, karena dunia pesantren sebenarnya telah mendidik santrinya untuk hidup mandiri dan berdikari. Sudah saatnya ketika terjun ke masyarakat mereka bisa hidup secara mandiri, bahkan lebih lanjut dengan kemandirian yang dimilikinya mampu memberikan manfaat kepada sesamanya. Untuk itulah, bekal-bekal keterampilan selama menjalani pendidikan di pesanteren perlu diberikan porsi yang banyak, bekal-bekal entrepreneurship harus banyak diajarkan kepada para santri. Dengan bekal keterampilan-keterampilan inilah suatu saat ketika santri terjun kemasyarakat mampu dan bisa hidup secara mandiri. Dengan istilah lain apa yang dikatakan oleh KH. Imam Zarasyi ”mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya”.
Tuesday, 11 November 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment