Google adalah raksasa bisnis Informasi abad ini, apakah rahasia kehebatan Google? Ternyata prinsip bisnisnya memiliki filosofi Silaturahmi, yaitu sebagai mesin pencari (search enggine) yang membantu seseorang untuk mencari sesuatu yang di inginkannya di dunia Internet. Lihat saja seseorang yang tidak tahu menjadi tahu, seseorang yang tidak terhubung menjadi terhubung dengan apa yang diinginkannya. Hal ini sama dengan filosofi silaturahmi yaitu : Menyambungkan yang terputus. Filosofi silaturahmi telah menjadi ruh Google, lihat saja kinerja perusahaan ini yang semakin hari semakin menunjukan perkembangan yang pesat. Filosofi silaturahmi adalah : Mendatangkan rizki dan memanjangkan umur. Google dengan mesin pencarinya yang sangat baik dan ramah dan membantu setiap orang untuk mencari apa yang diinginkannya mendapatkan berkah dengan membanjirnya pembayaran iklan kepada Google sehingga perusahaan ini semakin berkembang dan panjang umurnya. Nah, dari cerita ini kita bisa mengambil hikmah, bahwa keterbukaan, kerahaman menjadi kunci berkembangnya bisnis yang kita lakukan. Buatlah sebuah konsep bisnis yang menolong orang lain, maka tunggu saja akan semakin banyak orang yang mau membantu bisnis kita berkembang juga. Tidak selalu semua bisnis dimulai serba uang. Tetapi bisnis adalah sebuah pertolongan yang kita berikan kepada konsumen!!!. Semoga kita semakin termotivasi dengan bacaan ini.
Salam Motivasi
Agus Candra
Sunday, 3 August 2008
Saturday, 2 August 2008
Bangkitnya indonesia dimulai dari kebangkitan entrepreneur-entrepreneur muda di negeri ini. Maka untuk melahirkan entrepreneur-entrepreneur tersebut diperlukan sebuah motivasi. Blog ini hadir untuk memberikan motivasi kepada banyak orang agar berani menjadi entrepreneur. marilah kita berbagi motivasi dan inspirasi di blog ini.
Friday, 1 August 2008
Sebagian besar orang bekerja untuk mendapatkan uang. Tidak dapat disangkal bahwa gaji dan kompensasi finansial merupakan faktor-faktor penting ketika memilih pekerjaan, atau ketika memutuskan untuk bertahan dalam satu pekerjaan atau keluar.
Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa uang bukan segala-galanya.
Pada bagian 1 mengenai “Motivasi Bekerja” kita telah mendiskusikan perbedaan antara “Faktor-faktor mendasar” dan “Faktor-faktor yang memotivasi”. Kesimpulannya, agar orang-orang termotivasi dalam pekerjaan mereka, memenuhi faktor-faktor mendasar saja tidaklah cukup. Harus ada faktor-faktor yang memotivasi. Pada bagian 1, kita telah menjelaskan cara menggunakan imbalan untuk memotivasi staf. Pula menerima imbalan saja tidaklah cukup. Imbalah harus diberikan dengan cara yang tepat sehingga karyawan yang menerimanya merasa dihormati, dihargai, dan diakui.
Dalam bagian 2 ¨Motivasi Bekerja” kita akan mendiskusikan hal-hal yang membuat orang bertahan dalam satu pekerjaan dan ingin melakukannya dengan baik serta hal-hal yang menyebabkan orang keluar dari pekerjaannya.
Karyawan bertahan atau keluar dari pekerjaannya, menjadi termotivasi atau kehilangan motivasi karena kombinasi dari beragam alasan. Tiap orang memiliki alasan yang berbeda dalam berbagai tahap kehidupannya. Lantas, bagaimana Anda menemukan hal-hal yang memotivasi para karyawan Anda dan membuat mereka bertahan melakukan pekerjaan tersebut dengan gembira? Jawabannya mungkin kelihatan jelas dan bodoh. Namun cara paling mudah dan akurat adalah tanyakan hal tersebut kepada mereka secara langsung!
Pertanyaan-pertanyaan apa yang harus diajukan kepada para karyawan Anda?
Untuk membantu Anda memulainya, berikut ini beberapa pertanyaan sederhana namun sangat membantu untuk menanyai para karyawan Anda:
Apa yang membuat Anda bertahan di sini?
Apa yang mungkin memikat Anda meninggalkan pekerjaan Anda saat ini?
Apa yang paling menarik dari pekerjaan Anda?
Apakah kami sepenuhnya mendayagunakan bakat Anda?
Apakah yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda bekerja dengan sebaik-baiknya?
Selain pertanyaan tersebut, masih ada banyak pertanyaan lainnya yang dapat Anda ajukan kepada mereka. Hal ini tergantung pada apa yang Anda ingin ketahui mengenai mereka dan mengenai diri Anda sendiri.
Berikut ini beberapa manfaat yang jelas dari pengajuan pertanyaan-pertanyaan ini:
Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, karyawan Anda akan mengetahui bahwa Anda peduli, Anda menaruh perhatian pada kesejahteraan mereka, mereka adalah anggota-anggota tim Anda yang penting, mereka memiliki peran penting untuk menunjang keberhasilan tim Anda dan bahwa Anda ingin memberi yang terbaik kepada mereka semampu Anda.
Jawaban-jawaban karyawan Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan pengertian yang sangat berharga mengenai :
Apa yang sesungguhnya ada dalam hati dan pikiran mereka
Apa yang sesungguhnya penting bagi mereka
Apa yang sesungguhnya memotivasi mereka dan apa yang membuat mereka bosan atau tidak tertarik dengan pekerjaan mereka
Apakah Anda mendayagunakan talenta dan potensi mereka secara maksimal atau tidak
Seberapa besar komitmen mereka terhadap tim
Gaya manajemen Anda
Ketrampilan atau keahlian karyawan Anda
Kekuatan dan kelemahan Anda sebagai manajer
Pertanyaan-pertanyaan di atas sangat sederhana dan langsung menuju ke sasarannya, namun berapa banyak orang di antara kita yang benar-benar mengajukan pertanyaan ini kepada para karyawan kita? Mengapa kita tidak menanyai mereka?
Tidak perlu menanyai karena kita mengasumsikan bahwa kita sudah tahu jawabannya? Apakah kita paranormal? Dapatkah kita membaca pikiran orang?
Tidak ada waktu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini?
Tidak mau repot-repot menanyai karena Anda sesungguhnya tidak peduli dengan apa yang mereka rasakan dan pikirkan? Namun Anda ingin mereka melakukan yang terbaik?
Cara tepat mengajukan pertanyaan
Untuk mampu mendapatkan jawaban yang jujur dari para karyawan Anda merupakan hal yang jauh lebih sulit daripada mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu! Jika kita tidak mendapatkan jawaban jujur dari para karyawan kita, seluruh tujuan pengajuan pertanyaan ini tidak tercapai!
Setiap manajer memiliki gaya yang berbeda dan setiap karyawan memerlukan metode yang berbeda. Anda memilih pendekatan mana yang paling sesuai dengan Anda dan karyawan Anda. Berikut ini beberapa saran:
1. Wawancara
Anda mungkin ingin mengundang karyawan ke kantor Anda untuk mengadakan pembicaraan santai. Namun pastikan bahwa penetuan waktu Anda tepat. Beberapa contoh penentuan waktu yang tidak tepat:
Ketika dia sibuk dengan pekerjaannya
Ketika ada hal-hal penting lainnya yang harus dipikirkan atau dilakukannya
Ketika dia sedang mengejar tenggat waktu penyelesaian tugas
Dia harus menyelesaikan masalah dengan pelanggan yang marah, dll.
Pastikan karyawan Anda sedang dalam situasi santai dan memiliki mood yang baik untuk mengadakan percakapan dengan Anda.
2. Percakapan “yang tidak direncanakan sebelumnya”
Cara lain untuk mengajukan pertanyaan adalah mengundang karyawan Anda untuk makan siang/malam/minum-minum, atau bertemu di kantin. Anda dapat dengan santai mengajukan beberapa pertanyaan di atas. Jika karyawan Anda merespons, Anda dapat mengembangkan percakapan dengan pertanyaan lainnya. Jika dia kelihatan tidak nyaman, ubahlah topik pembicaraan pada topik-topik yang kurang “sensitif”.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan:
Realitas bahwa Anda mungkin tidak ingin mengajukan begitu banyak pertanyaan dalam satu kesempatan. Mengajukan begitu banyak pertanyaan langsung kadang-kadang mungkin “membuat takut” karyawan Anda.
Anda mungkin harus mengalimatkan ulang pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga tidak terdengar langsung menuju ke sasaran
Selipkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam percakapan Anda sehingga mereka tidak menyadari bahwa Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Jika Anda dan karyawan Anda tidak terbiasa berbicara dalam tingkat yang “intim” ini, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin menyebabkan ketidaknyamanan. Mereka mungkin berpikir:
Mengapa Anda tiba-tiba mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?
Apakah mereka telah melakukan sesuatu yang salah?
Apakah Anda berencana untuk memindahtugaskan mereka?
Apakah Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini untuk menetukan besarnya bonus mereka?
Apakah Anda mencoba menggali informasi dari mereka mengenai teman-teman mereka?
Apakah Anda bertanya untuk menilai pantas tidaknya mereka mendapatkan promosi jabatan?
Apa pun pertimbangannya, jika Anda ingin mengetahui cara memotivasi karyawan Anda, apa yang membuatnya tetap termotivasi, alasan yang membuatnya tetap bertahan dalam pekerjaannya, faktor-faktor yang akan menyebabkannya ingin keluar dari pekerjaannya, dll, dengan cara tertentu Anda harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepadanya.
Anda tidak perlu mengajukan pertanyaan tersebut kepada mereka setiap minggu. Lakukan setiap empat bulan sudah lebih dari cukup. Mengetahui apa yang membuat karyawan Anda berperilaku seperti yang Anda amati akan memiliki dampak yang penting pada keefektifan Anda sebagai manajer dan untuk meningkatkan kinerja keseluruhan tim Anda. Semoga Anda sukses!
James Gwee T,H., MBA
Indonesia's Favourite Trainer & Speaker
Sumber :
Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa uang bukan segala-galanya.
Pada bagian 1 mengenai “Motivasi Bekerja” kita telah mendiskusikan perbedaan antara “Faktor-faktor mendasar” dan “Faktor-faktor yang memotivasi”. Kesimpulannya, agar orang-orang termotivasi dalam pekerjaan mereka, memenuhi faktor-faktor mendasar saja tidaklah cukup. Harus ada faktor-faktor yang memotivasi. Pada bagian 1, kita telah menjelaskan cara menggunakan imbalan untuk memotivasi staf. Pula menerima imbalan saja tidaklah cukup. Imbalah harus diberikan dengan cara yang tepat sehingga karyawan yang menerimanya merasa dihormati, dihargai, dan diakui.
Dalam bagian 2 ¨Motivasi Bekerja” kita akan mendiskusikan hal-hal yang membuat orang bertahan dalam satu pekerjaan dan ingin melakukannya dengan baik serta hal-hal yang menyebabkan orang keluar dari pekerjaannya.
Karyawan bertahan atau keluar dari pekerjaannya, menjadi termotivasi atau kehilangan motivasi karena kombinasi dari beragam alasan. Tiap orang memiliki alasan yang berbeda dalam berbagai tahap kehidupannya. Lantas, bagaimana Anda menemukan hal-hal yang memotivasi para karyawan Anda dan membuat mereka bertahan melakukan pekerjaan tersebut dengan gembira? Jawabannya mungkin kelihatan jelas dan bodoh. Namun cara paling mudah dan akurat adalah tanyakan hal tersebut kepada mereka secara langsung!
Pertanyaan-pertanyaan apa yang harus diajukan kepada para karyawan Anda?
Untuk membantu Anda memulainya, berikut ini beberapa pertanyaan sederhana namun sangat membantu untuk menanyai para karyawan Anda:
Apa yang membuat Anda bertahan di sini?
Apa yang mungkin memikat Anda meninggalkan pekerjaan Anda saat ini?
Apa yang paling menarik dari pekerjaan Anda?
Apakah kami sepenuhnya mendayagunakan bakat Anda?
Apakah yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda bekerja dengan sebaik-baiknya?
Selain pertanyaan tersebut, masih ada banyak pertanyaan lainnya yang dapat Anda ajukan kepada mereka. Hal ini tergantung pada apa yang Anda ingin ketahui mengenai mereka dan mengenai diri Anda sendiri.
Berikut ini beberapa manfaat yang jelas dari pengajuan pertanyaan-pertanyaan ini:
Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, karyawan Anda akan mengetahui bahwa Anda peduli, Anda menaruh perhatian pada kesejahteraan mereka, mereka adalah anggota-anggota tim Anda yang penting, mereka memiliki peran penting untuk menunjang keberhasilan tim Anda dan bahwa Anda ingin memberi yang terbaik kepada mereka semampu Anda.
Jawaban-jawaban karyawan Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan pengertian yang sangat berharga mengenai :
Apa yang sesungguhnya ada dalam hati dan pikiran mereka
Apa yang sesungguhnya penting bagi mereka
Apa yang sesungguhnya memotivasi mereka dan apa yang membuat mereka bosan atau tidak tertarik dengan pekerjaan mereka
Apakah Anda mendayagunakan talenta dan potensi mereka secara maksimal atau tidak
Seberapa besar komitmen mereka terhadap tim
Gaya manajemen Anda
Ketrampilan atau keahlian karyawan Anda
Kekuatan dan kelemahan Anda sebagai manajer
Pertanyaan-pertanyaan di atas sangat sederhana dan langsung menuju ke sasarannya, namun berapa banyak orang di antara kita yang benar-benar mengajukan pertanyaan ini kepada para karyawan kita? Mengapa kita tidak menanyai mereka?
Tidak perlu menanyai karena kita mengasumsikan bahwa kita sudah tahu jawabannya? Apakah kita paranormal? Dapatkah kita membaca pikiran orang?
Tidak ada waktu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini?
Tidak mau repot-repot menanyai karena Anda sesungguhnya tidak peduli dengan apa yang mereka rasakan dan pikirkan? Namun Anda ingin mereka melakukan yang terbaik?
Cara tepat mengajukan pertanyaan
Untuk mampu mendapatkan jawaban yang jujur dari para karyawan Anda merupakan hal yang jauh lebih sulit daripada mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu! Jika kita tidak mendapatkan jawaban jujur dari para karyawan kita, seluruh tujuan pengajuan pertanyaan ini tidak tercapai!
Setiap manajer memiliki gaya yang berbeda dan setiap karyawan memerlukan metode yang berbeda. Anda memilih pendekatan mana yang paling sesuai dengan Anda dan karyawan Anda. Berikut ini beberapa saran:
1. Wawancara
Anda mungkin ingin mengundang karyawan ke kantor Anda untuk mengadakan pembicaraan santai. Namun pastikan bahwa penetuan waktu Anda tepat. Beberapa contoh penentuan waktu yang tidak tepat:
Ketika dia sibuk dengan pekerjaannya
Ketika ada hal-hal penting lainnya yang harus dipikirkan atau dilakukannya
Ketika dia sedang mengejar tenggat waktu penyelesaian tugas
Dia harus menyelesaikan masalah dengan pelanggan yang marah, dll.
Pastikan karyawan Anda sedang dalam situasi santai dan memiliki mood yang baik untuk mengadakan percakapan dengan Anda.
2. Percakapan “yang tidak direncanakan sebelumnya”
Cara lain untuk mengajukan pertanyaan adalah mengundang karyawan Anda untuk makan siang/malam/minum-minum, atau bertemu di kantin. Anda dapat dengan santai mengajukan beberapa pertanyaan di atas. Jika karyawan Anda merespons, Anda dapat mengembangkan percakapan dengan pertanyaan lainnya. Jika dia kelihatan tidak nyaman, ubahlah topik pembicaraan pada topik-topik yang kurang “sensitif”.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan:
Realitas bahwa Anda mungkin tidak ingin mengajukan begitu banyak pertanyaan dalam satu kesempatan. Mengajukan begitu banyak pertanyaan langsung kadang-kadang mungkin “membuat takut” karyawan Anda.
Anda mungkin harus mengalimatkan ulang pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga tidak terdengar langsung menuju ke sasaran
Selipkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam percakapan Anda sehingga mereka tidak menyadari bahwa Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Jika Anda dan karyawan Anda tidak terbiasa berbicara dalam tingkat yang “intim” ini, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin menyebabkan ketidaknyamanan. Mereka mungkin berpikir:
Mengapa Anda tiba-tiba mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?
Apakah mereka telah melakukan sesuatu yang salah?
Apakah Anda berencana untuk memindahtugaskan mereka?
Apakah Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini untuk menetukan besarnya bonus mereka?
Apakah Anda mencoba menggali informasi dari mereka mengenai teman-teman mereka?
Apakah Anda bertanya untuk menilai pantas tidaknya mereka mendapatkan promosi jabatan?
Apa pun pertimbangannya, jika Anda ingin mengetahui cara memotivasi karyawan Anda, apa yang membuatnya tetap termotivasi, alasan yang membuatnya tetap bertahan dalam pekerjaannya, faktor-faktor yang akan menyebabkannya ingin keluar dari pekerjaannya, dll, dengan cara tertentu Anda harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepadanya.
Anda tidak perlu mengajukan pertanyaan tersebut kepada mereka setiap minggu. Lakukan setiap empat bulan sudah lebih dari cukup. Mengetahui apa yang membuat karyawan Anda berperilaku seperti yang Anda amati akan memiliki dampak yang penting pada keefektifan Anda sebagai manajer dan untuk meningkatkan kinerja keseluruhan tim Anda. Semoga Anda sukses!
James Gwee T,H., MBA
Indonesia's Favourite Trainer & Speaker
Sumber :
Uang BUKAN satu-satunya faktor yang memotivasi orang untuk bekerja!
Uang BUKAN satu-satunya faktor yang memotivasi orang untuk bekerja!
Sebagian besar orang bekerja untuk mendapatkan uang. Tidak disangkal bahwa gaji dan kompensasi finansial merupakan faktor penting ketika memilih pekerjaan dan memutuskan bertahan atau keluar dari tempat kerja Namun, harus diingat bahwa uang bukanlah segalanya.
Apakah yang memotivasi seorang karyawan dan apa yang tidak memotivasi dia?
Faktor-faktor mendasar
Gaji pokok yang pantas dan lingkungan kerja yang aman hanyalah faktor-faktor mendasar yang membuat orang ingin bekerja di perusahaan Anda. Tanpa faktor-faktor ini, orang tidak ingin bekerja untuk Anda! Jadi, jika Anda seorang manajer atau pemilik bisnis, jangan salah mengasumsikan bahwa hanya karena memberikan upah yang pantas kepada para karyawan Anda (UMR atau sedikit di atas UMR, atau mengikuti standar pasar), Anda dapat mengharapkan mereka termotivasi bekerja. Salah! Orang tidak termotivasi oleh gaji pokok!
Faktor-faktor yang memotivasi orang untuk bekerja
Jika Anda mengharapkan para karyawan Anda termotivasi, Anda harus memberikan hal berikut ini:
Pekerjaan menantang yang memungkinkan orang mengembangkan kemampuannya.
Lingkungan yang mendukung orang untuk belajar.
Lingkungan tempat orang dapat menikmati interaksi dengan rekan-rekan sekerja
Lingkungan yang menumbuhkan sikap menghormati diri sendiri dan orang lain
Pengakuan atas prestasi mereka
Bila faktor-faktor tersebut ada dalam pekerjaan, para karyawan akan termotivasi untuk bekerja. Jika tidak, mereka hanya melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah.
Oleh sebab itu, seorang manajer harus mengetahui perbedaan antara faktor-faktor pokok dan faktor-faktor yang memotivasi orang untuk bekerja. Sekarang, perhatikan tempat kerja Anda, apakah Anda hanya menyediakan faktor pokok atau faktor yang memotivasi orang untuk bekerja?
Salah satu faktor penting yang memotivasi orang untuk bekerja adalah pengakuan atas prestasi. Pengakuan dapat diwujudkan dalam bentuk imbalan atau penghargaan. Ada 1001 cara untuk menunjukkan bahwa Anda menghargai prestasi karyawan. Misalnya: insentif finansial, hadiah, cuti, liburan gratis, kesempatan bekerja di kantor atasan selama seminggu, diperkenalkan dengan CEO dan makan siang bersamanya, dsb.
Memberi Penghargaan
Cara Anda memberikan penghargaan sama pentingnya dengan penghargaan itu sendiri. Orang sangat menyukai perayaan, pesta, dan keriuhan. Jadi, perhatikan cara Anda memberikan penghargaan. Jika tidak, semua usaha Anda akan sia-sia dan karyawan Anda tidak merasa bahwa Anda benar-benar menghargainya. Berikut ini beberapa ide untuk memastikan bahwa karyawan Anda merasa dihargai dan diakui ketika ia menerima penghargaan.
Pilihlah orang yang tepat untuk memberikan hadiah. Orang yang memberikan penghargaan tidaklah selalu harus CEO. Pilihlah orang yang istimewa di mata penerima penghargaan. Idealnya, pilihlah seseorang yang mengenal karyawan secara pribadi. Ada baiknya meminta pelanggan yang biasa dilayani si penerima penghargaan dan merasa puas atas layanannya untuk menyerahkan penghargaan. Penyerahan penghargaan ini disertai pidato singkat yang menyatakan bahwa karyawan ini benar-benar pantas menerima penghargaan. Dapatkah Anda membayangkan jika ibu (atau bahkan kakek) si karyawan ini secara diam-diam diundang untuk menyerahkan penghargaan kepadanya di atas panggung! Pengalaman yang benar-benar menyentuh perasaan dan tidak akan terlupakan! Sering kali, sedikit upaya ekstra dapat memiliki efek yang benar-benar bermakna.
Penyerah hadiah harus tahu tentang hadiah tersebut. Orang yang ditugaskan untuk menyerahkan hadiah harus mengetahui nama penghargaan dan tujuannya. Dia harus mengetahui kriteria untuk memenangkan penghargaan sehingga memiliki pemahaman mengenai betapa tinggi kualifikasi/komitmen si pemenang agar pidato singkatnya mencerminkan penghargaan dan kekaguman. Jika Anda dipilih untuk menyerahkan penghargaan, Anda harus menganggap tugas tersebut sebagai hal serius dan patut Anda hormati. Mungkin acara tersebut tidak berarti banyak bagi Anda, namun dapat berarti segalanya bagi penerima penghargaan. Mungkin dia telah menanti seumur hidup untuk momen di atas panggung ini! Inilah momen kejayaannya!
Mintalah rekan sekerjanya memberikan komentar. Ada baiknya jika ada rekan kerja yang memberikan komentar positif mengenai si pemenang di atas panggung. Ini merupakan bentuk penghargaan lain yang menunjukkan bahwa orang lain juga menghargai prestasinya.
Beri kesempatan kepada pemenang untuk memberikan komentar. Ini selalu menjadi saat yang mengharukan. Si pemenang mungkin tidak ingin mengucapkan satu patah kata pun. Bagaimana pun ada baiknya memberi kesempatan kepadanya. Anda akan terkejut ketika mengetahui perasaannya setelah menerima penghargaan. Namun, hati-hatilah dengan orang yang cenderung berbicara bertele-tele! Pastikan paling lama 3 menit untuk berbicara.
Sering kali yang membuat hadiah tersebut begitu berarti, menyentuh perasaan, dan tidak terlupakan bukanlah harga hadiahnya. Cara hadiah tersebut diberikan itulah yang berkesan di hati penerimanya. Jadi, berikanlah penghargaan secara tulus. Karyawan Anda patut mendapatkannya!
James Gwee T,H., MBA
Indonesia's Favourite Trainer & Speaker
Sumber :
Sebagian besar orang bekerja untuk mendapatkan uang. Tidak disangkal bahwa gaji dan kompensasi finansial merupakan faktor penting ketika memilih pekerjaan dan memutuskan bertahan atau keluar dari tempat kerja Namun, harus diingat bahwa uang bukanlah segalanya.
Apakah yang memotivasi seorang karyawan dan apa yang tidak memotivasi dia?
Faktor-faktor mendasar
Gaji pokok yang pantas dan lingkungan kerja yang aman hanyalah faktor-faktor mendasar yang membuat orang ingin bekerja di perusahaan Anda. Tanpa faktor-faktor ini, orang tidak ingin bekerja untuk Anda! Jadi, jika Anda seorang manajer atau pemilik bisnis, jangan salah mengasumsikan bahwa hanya karena memberikan upah yang pantas kepada para karyawan Anda (UMR atau sedikit di atas UMR, atau mengikuti standar pasar), Anda dapat mengharapkan mereka termotivasi bekerja. Salah! Orang tidak termotivasi oleh gaji pokok!
Faktor-faktor yang memotivasi orang untuk bekerja
Jika Anda mengharapkan para karyawan Anda termotivasi, Anda harus memberikan hal berikut ini:
Pekerjaan menantang yang memungkinkan orang mengembangkan kemampuannya.
Lingkungan yang mendukung orang untuk belajar.
Lingkungan tempat orang dapat menikmati interaksi dengan rekan-rekan sekerja
Lingkungan yang menumbuhkan sikap menghormati diri sendiri dan orang lain
Pengakuan atas prestasi mereka
Bila faktor-faktor tersebut ada dalam pekerjaan, para karyawan akan termotivasi untuk bekerja. Jika tidak, mereka hanya melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah.
Oleh sebab itu, seorang manajer harus mengetahui perbedaan antara faktor-faktor pokok dan faktor-faktor yang memotivasi orang untuk bekerja. Sekarang, perhatikan tempat kerja Anda, apakah Anda hanya menyediakan faktor pokok atau faktor yang memotivasi orang untuk bekerja?
Salah satu faktor penting yang memotivasi orang untuk bekerja adalah pengakuan atas prestasi. Pengakuan dapat diwujudkan dalam bentuk imbalan atau penghargaan. Ada 1001 cara untuk menunjukkan bahwa Anda menghargai prestasi karyawan. Misalnya: insentif finansial, hadiah, cuti, liburan gratis, kesempatan bekerja di kantor atasan selama seminggu, diperkenalkan dengan CEO dan makan siang bersamanya, dsb.
Memberi Penghargaan
Cara Anda memberikan penghargaan sama pentingnya dengan penghargaan itu sendiri. Orang sangat menyukai perayaan, pesta, dan keriuhan. Jadi, perhatikan cara Anda memberikan penghargaan. Jika tidak, semua usaha Anda akan sia-sia dan karyawan Anda tidak merasa bahwa Anda benar-benar menghargainya. Berikut ini beberapa ide untuk memastikan bahwa karyawan Anda merasa dihargai dan diakui ketika ia menerima penghargaan.
Pilihlah orang yang tepat untuk memberikan hadiah. Orang yang memberikan penghargaan tidaklah selalu harus CEO. Pilihlah orang yang istimewa di mata penerima penghargaan. Idealnya, pilihlah seseorang yang mengenal karyawan secara pribadi. Ada baiknya meminta pelanggan yang biasa dilayani si penerima penghargaan dan merasa puas atas layanannya untuk menyerahkan penghargaan. Penyerahan penghargaan ini disertai pidato singkat yang menyatakan bahwa karyawan ini benar-benar pantas menerima penghargaan. Dapatkah Anda membayangkan jika ibu (atau bahkan kakek) si karyawan ini secara diam-diam diundang untuk menyerahkan penghargaan kepadanya di atas panggung! Pengalaman yang benar-benar menyentuh perasaan dan tidak akan terlupakan! Sering kali, sedikit upaya ekstra dapat memiliki efek yang benar-benar bermakna.
Penyerah hadiah harus tahu tentang hadiah tersebut. Orang yang ditugaskan untuk menyerahkan hadiah harus mengetahui nama penghargaan dan tujuannya. Dia harus mengetahui kriteria untuk memenangkan penghargaan sehingga memiliki pemahaman mengenai betapa tinggi kualifikasi/komitmen si pemenang agar pidato singkatnya mencerminkan penghargaan dan kekaguman. Jika Anda dipilih untuk menyerahkan penghargaan, Anda harus menganggap tugas tersebut sebagai hal serius dan patut Anda hormati. Mungkin acara tersebut tidak berarti banyak bagi Anda, namun dapat berarti segalanya bagi penerima penghargaan. Mungkin dia telah menanti seumur hidup untuk momen di atas panggung ini! Inilah momen kejayaannya!
Mintalah rekan sekerjanya memberikan komentar. Ada baiknya jika ada rekan kerja yang memberikan komentar positif mengenai si pemenang di atas panggung. Ini merupakan bentuk penghargaan lain yang menunjukkan bahwa orang lain juga menghargai prestasinya.
Beri kesempatan kepada pemenang untuk memberikan komentar. Ini selalu menjadi saat yang mengharukan. Si pemenang mungkin tidak ingin mengucapkan satu patah kata pun. Bagaimana pun ada baiknya memberi kesempatan kepadanya. Anda akan terkejut ketika mengetahui perasaannya setelah menerima penghargaan. Namun, hati-hatilah dengan orang yang cenderung berbicara bertele-tele! Pastikan paling lama 3 menit untuk berbicara.
Sering kali yang membuat hadiah tersebut begitu berarti, menyentuh perasaan, dan tidak terlupakan bukanlah harga hadiahnya. Cara hadiah tersebut diberikan itulah yang berkesan di hati penerimanya. Jadi, berikanlah penghargaan secara tulus. Karyawan Anda patut mendapatkannya!
James Gwee T,H., MBA
Indonesia's Favourite Trainer & Speaker
Sumber :
Tips Motivasi Diri
KapanLagi.com - Seringkali rutinitas, dan berbagai masalah yang datang silih berganti setiap hari membuat kita kehilangan motivasi untuk mendapatkan yang lebih baik dalam kehidupan. Hingga semua tujuan kita mengabur dan lama-lama menghilang. Berikut kami sampaikan tujuh cara untuk mendapatkan motivasi setiap hari:
1. Ciptakan Hasrat - Lihat imbalan dari usaha Anda secara jelas. Cara ini memberikan banyak motivasi untuk membuat rencana Anda cepat terwujud. Bayangkan rumah impian Anda setiap hari, dan ini akan memberikan Anda dorongan untuk menjadikannya nyata.
2. Ciptakan Rasa Sakit - Dalam program Neuro-Linguistic mereka mengajarkan pada Anda untuk menghubungkan rasa sakit dengan tidak melakukan tindakan. Gambaran kekasih Anda keluar dengan orang lain, saat Anda menyaksikan itu dengan diam-diam, hal itu mungkin membuat Anda termotivasi membicarakan hal-hal yang Anda hindari dengan pasangan Anda.
3. Bicarakan Rencana Anda - Bicaralah pada pasangan Anda tentang rencana Anda, atau tuliskan dalam selembar kertas apa yang akan Anda lakukan lalu tempelkan di kulkas.
4. Miliki Sebuah Ketertarikan yang Nyata - Jika tak ada ketertarikan sama sekali Anda mungkin perlu melakukan sesuatu, untuk itu buat sebuah tujuan besar dalam pikiran Anda.
5. Miliki Energi - Kafein akan memberikan rasa sehat untuk sesaat, tapi dalam satu atau lain cara, Anda membutuhkan energi lebih sebagai motivasi untuk setiap hari, misalnya dengan olah raga atau tidur cukup.
6. Ciptakan Keseimbangan Mental - Sangat sulit untuk menemukan motivasi jika Anda dalam keadaan tertekan. Hilangkan beberapa perasaan negatif Anda, atau pada akhirnya pilih kerjakan pekerjaan penting saat Anda dalam mood yang bagus.
7. Ambil Sebuah Langkah Kecil - Lakukan pengumpulan untuk satu tas besar daun-daun di halaman. Dan denagn segera Anda akan membersihkan halaman. Setiap sebuah langkah kecil yang Anda ambil untuk mencapi tujuan akan memberikan motivasi pada Anda setiap hari. (buzz/erl)
1. Ciptakan Hasrat - Lihat imbalan dari usaha Anda secara jelas. Cara ini memberikan banyak motivasi untuk membuat rencana Anda cepat terwujud. Bayangkan rumah impian Anda setiap hari, dan ini akan memberikan Anda dorongan untuk menjadikannya nyata.
2. Ciptakan Rasa Sakit - Dalam program Neuro-Linguistic mereka mengajarkan pada Anda untuk menghubungkan rasa sakit dengan tidak melakukan tindakan. Gambaran kekasih Anda keluar dengan orang lain, saat Anda menyaksikan itu dengan diam-diam, hal itu mungkin membuat Anda termotivasi membicarakan hal-hal yang Anda hindari dengan pasangan Anda.
3. Bicarakan Rencana Anda - Bicaralah pada pasangan Anda tentang rencana Anda, atau tuliskan dalam selembar kertas apa yang akan Anda lakukan lalu tempelkan di kulkas.
4. Miliki Sebuah Ketertarikan yang Nyata - Jika tak ada ketertarikan sama sekali Anda mungkin perlu melakukan sesuatu, untuk itu buat sebuah tujuan besar dalam pikiran Anda.
5. Miliki Energi - Kafein akan memberikan rasa sehat untuk sesaat, tapi dalam satu atau lain cara, Anda membutuhkan energi lebih sebagai motivasi untuk setiap hari, misalnya dengan olah raga atau tidur cukup.
6. Ciptakan Keseimbangan Mental - Sangat sulit untuk menemukan motivasi jika Anda dalam keadaan tertekan. Hilangkan beberapa perasaan negatif Anda, atau pada akhirnya pilih kerjakan pekerjaan penting saat Anda dalam mood yang bagus.
7. Ambil Sebuah Langkah Kecil - Lakukan pengumpulan untuk satu tas besar daun-daun di halaman. Dan denagn segera Anda akan membersihkan halaman. Setiap sebuah langkah kecil yang Anda ambil untuk mencapi tujuan akan memberikan motivasi pada Anda setiap hari. (buzz/erl)
Jadilah Pemimpin yang Memotivasi
Motivasi
Ada banyak cara untuk memotivasi orang lain mencapai sasaran atau menyelesaikan suatu tugas maupun mengatasi persoalan atau tantangan yang dihadapinya. Salah satu karakteristik utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk memotivasi orang lain dalam mencapai tujuan atau misi dari organisasinya. Seorang pemimpin yang tidak mampu memotivasi orang-orangnya, tidak lebih dari seorang penunjuk jalan, yang tahu ke mana harus pergi tetapi sepenuhnya tidak dapat mengendalikan mereka yang dipandunya.
Pengelola rubrik:
Aribowo Prijosaksono
dan Roy Sembel
Jenderal Norman Schwarzkopff, pemimpin Sekutu semasa Perang Teluk menunjukkan bahwa seorang pemimpin dalam militer yang memiliki wewenang untuk memaksakan kepatuhan, biasanya adalah seorang motivator yang buruk. Pada prinsipnya, jika kita selalu menggunakan pendekatan kekuasaan untuk memaksa orang lain melakukan sesuatu, maka organisasi kita tidak akan bertahan lama. Jika ada sedikit kesempatan, maka orang-orang dalam organisasi kita akan keluar atau paling tidak kinerja (performance) mereka jauh dari yang kita harapkan. Banyak sekali organisasi atau perusahaan mengalami turnover yang besar karena pegawainya tidak memiliki motivasi yang benar.
Hubungan Motivasi dengan Emosi
Kemampuan seorang pemimpin untuk memotivasi anggota timnya sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya (EQ-nya). Paling tidak (sebagaimana pernah kita bahas dalam edisi Mandiri 13 tentang Manajemen Emosi) ada enam keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, sebelum dia dapat memimpin orang lain, yaitu:
Mengenali emosi diri
Keterampilan ini meliputi kemampuan kita untuk mengidentifikasi apa yang sesungguhnya kita rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu muncul dalam pikiran, kita harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan. Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan membuat kita berada dalam kekuasaan emosi kita, artinya kita kehilangan kendali atas perasaan kita yang pada gilirannya membuat kita kehilangan kendali atas diri dan hidup kita.
Mengelola emosi diri sendiri
Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu: pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada kita. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya. Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri (self controlled) yang paling penting dalam manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan sebaliknya.
Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri (achievement motivation). Kendali diri emosional – menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati – adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Keterampilan memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan.
Mengenali emosi orang lain
Mengenali emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain. Penguasaan keterampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang disebut Covey sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti. Keterampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan manusia secara efektif.
Mengelola emosi orang lain
Jika keterampilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam berhubungan antarpribadi, maka keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antarmanusia. Keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu membangun hubungan antarpribadi yang kokoh dan berkelanjutan. Dalam dunia industri hubungan antarkorporasi atau organisasi sebenarnya dibangun atas hubungan antarindividu. Semakin tinggi kemampuan individu dalam organisasi untuk mengelola emosi orang lain (baca: membina hubungan yang efektif dengan pihak lain) semakin tinggi kinerja organisasi itu secara keseluruhan.
Memotivasi orang lain
Keterampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari keterampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim yang tangguh dan handal.
3 Jenis Motivasi
Jadi memotivasi orang lain, bukan sekadar mendorong atau bahkan memerintahkan seseorang melakukan sesuatu, melainkan sebuah seni yang melibatkan berbagai kemampuan dalam mengenali dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Paling tidak kita harus tahu bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong oleh motivasinya. Ada tiga jenis atau tingkatan motivasi seseorang, yaitu: pertama, motivasi yang didasarkan atas ketakutan (fear motivation). Dia melakukan sesuatu karena takut jika tidak maka sesuatu yang buruk akan terjadi, misalnya orang patuh pada bos karena takut dipecat, orang membeli polis asuransi karena takut jika terjadi apa-apa dengannya, anak-istrinya akan menderita.
Motivasi kedua adalah karena ingin mencapai sesuatu (achievement motivation). Motivasi ini jauh lebih baik dari motivasi yang pertama, karena sudah ada tujuan di dalamnya. Seseorang mau melakukan sesuatu karena dia ingin mencapai suatu sasaran atau prestasi tertentu. Sedangkan motivasi yang ketiga adalah motivasi yang didorong oleh kekuatan dari dalam (inner motivation), yaitu karena didasarkan oleh misi atau tujuan hidupnya. Seseorang yang telah menemukan misi hidupnya bekerja berdasarkan nilai (values) yang diyakininya. Nilai-nilai itu bisa berupa rasa kasih (love) pada sesama atau ingin memiliki makna dalam menjalani hidupnya. Orang yang memiliki motivasi seperti ini biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Baginya bekerja bukan sekadar untuk memperoleh sesuatu (uang, harga diri, kebanggaan, prestasi) tetapi adalah proses belajar dan proses yang harus dilaluinya untuk mencapai misi hidupnya.
Dalam buku The One Minute Manager, kedua penulis (Kenneth Blanchard dan Spencer Johnson) merangkum topik bahasan kita mengenai motivasi ini dalam sebuah ilustrasi yang amat menarik mengenai Manajer Satu Menit. Untuk menjadi manajer yang efektif dan dapat memotivasi anak buah untuk mencapai sasaran perusahaan, maka ada tiga hal yang harus dilakukan.
Pertama adalah membangkitkan inner motivation dari orang yang dipimpinnya dengan menetapkan berbagi misi atau sasaran yang akan dicapai. Kita sebagai pemimpin perlu berbagi dengan tim kita untuk secara bersama melihat visi secara jelas dan mengapa kita melakukannya. Motivasi yang benar akan tumbuh dengan sendirinya ketika seseorang telah dapat melihat visi yang jauh lebih besar dari sekadar pencapaian target. Sehingga setiap orang dalam organisasi kita dapat bekerja dengan lebih efektif karena didorong oleh motivasi dari dalam dirinya.
Hal kedua dan ketiga yang perlu dilakukan oleh seorang manajer efektif adalah memberikan pujian yang tulus dan teguran yang tepat. Kita dapat membuat orang lain melakukan sesuatu secara efektif dengan cara memberikan pujian, dorongan dan kata-kata atau gesture yang positif. Bahkan dalam bukunya yang melegenda, Dale Carnegie (How to Win Friends and Influence People) menempatkan ini sebagai prisip pertama dan kedua dalam menangani manusia, yaitu: (1) jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh, dan (2) berikan penghargaan yang jujur dan tulus. Manusia pada prinsipnya tidak senang dikritik, dicemooh atau dicerca, tetapi sangat haus akan pujian dan apresiasi. Tetapi kritik atau teguran yang tepat seringkali justru diperlukan untuk membangun tim kerja yang kokoh dan handal. Yang penting dalam menegur orang lain adalah bukan pada apa yang kita sampaikan tetapi cara menyampaikannya. Teguran yang tepat justru dapat menjadi motivasi dan menimbulkan reaksi yang positif.
Penelitian yang dilakukan dalam lima puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa motivasi kerja tidak semata didasarkan pada nilai uang yang diperoleh (monetary value). Ketika kebutuhan dasar (to live) seseorang terpenuhi, maka dia akan membutuhkan hal-hal yang memuaskan jiwanya (to love) seperti kepuasan kerja, penghargaan, respek, suasana kerja , dan hal-hal yang memuaskan hasratnya untuk berkembang (to learn), yaitu kesempatan untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Sehingga akhirnya orang bekerja atau melakukan sesuatu karena nilai, ingin memiliki hidup yang bermakna dan dapat mewariskan sesuatu kepada yang dicintainya (to leave a legacy).
Ada banyak cara untuk memotivasi orang lain mencapai sasaran atau menyelesaikan suatu tugas maupun mengatasi persoalan atau tantangan yang dihadapinya. Salah satu karakteristik utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk memotivasi orang lain dalam mencapai tujuan atau misi dari organisasinya. Seorang pemimpin yang tidak mampu memotivasi orang-orangnya, tidak lebih dari seorang penunjuk jalan, yang tahu ke mana harus pergi tetapi sepenuhnya tidak dapat mengendalikan mereka yang dipandunya.
Pengelola rubrik:
Aribowo Prijosaksono
dan Roy Sembel
Jenderal Norman Schwarzkopff, pemimpin Sekutu semasa Perang Teluk menunjukkan bahwa seorang pemimpin dalam militer yang memiliki wewenang untuk memaksakan kepatuhan, biasanya adalah seorang motivator yang buruk. Pada prinsipnya, jika kita selalu menggunakan pendekatan kekuasaan untuk memaksa orang lain melakukan sesuatu, maka organisasi kita tidak akan bertahan lama. Jika ada sedikit kesempatan, maka orang-orang dalam organisasi kita akan keluar atau paling tidak kinerja (performance) mereka jauh dari yang kita harapkan. Banyak sekali organisasi atau perusahaan mengalami turnover yang besar karena pegawainya tidak memiliki motivasi yang benar.
Hubungan Motivasi dengan Emosi
Kemampuan seorang pemimpin untuk memotivasi anggota timnya sangat dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya (EQ-nya). Paling tidak (sebagaimana pernah kita bahas dalam edisi Mandiri 13 tentang Manajemen Emosi) ada enam keterampilan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin, sebelum dia dapat memimpin orang lain, yaitu:
Mengenali emosi diri
Keterampilan ini meliputi kemampuan kita untuk mengidentifikasi apa yang sesungguhnya kita rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu muncul dalam pikiran, kita harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan. Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan membuat kita berada dalam kekuasaan emosi kita, artinya kita kehilangan kendali atas perasaan kita yang pada gilirannya membuat kita kehilangan kendali atas diri dan hidup kita.
Mengelola emosi diri sendiri
Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu: pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada kita. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya. Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri (self controlled) yang paling penting dalam manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan sebaliknya.
Memotivasi diri sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri (achievement motivation). Kendali diri emosional – menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati – adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Keterampilan memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan.
Mengenali emosi orang lain
Mengenali emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain. Penguasaan keterampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang disebut Covey sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti. Keterampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan manusia secara efektif.
Mengelola emosi orang lain
Jika keterampilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam berhubungan antarpribadi, maka keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antarmanusia. Keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu membangun hubungan antarpribadi yang kokoh dan berkelanjutan. Dalam dunia industri hubungan antarkorporasi atau organisasi sebenarnya dibangun atas hubungan antarindividu. Semakin tinggi kemampuan individu dalam organisasi untuk mengelola emosi orang lain (baca: membina hubungan yang efektif dengan pihak lain) semakin tinggi kinerja organisasi itu secara keseluruhan.
Memotivasi orang lain
Keterampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari keterampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim yang tangguh dan handal.
3 Jenis Motivasi
Jadi memotivasi orang lain, bukan sekadar mendorong atau bahkan memerintahkan seseorang melakukan sesuatu, melainkan sebuah seni yang melibatkan berbagai kemampuan dalam mengenali dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Paling tidak kita harus tahu bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong oleh motivasinya. Ada tiga jenis atau tingkatan motivasi seseorang, yaitu: pertama, motivasi yang didasarkan atas ketakutan (fear motivation). Dia melakukan sesuatu karena takut jika tidak maka sesuatu yang buruk akan terjadi, misalnya orang patuh pada bos karena takut dipecat, orang membeli polis asuransi karena takut jika terjadi apa-apa dengannya, anak-istrinya akan menderita.
Motivasi kedua adalah karena ingin mencapai sesuatu (achievement motivation). Motivasi ini jauh lebih baik dari motivasi yang pertama, karena sudah ada tujuan di dalamnya. Seseorang mau melakukan sesuatu karena dia ingin mencapai suatu sasaran atau prestasi tertentu. Sedangkan motivasi yang ketiga adalah motivasi yang didorong oleh kekuatan dari dalam (inner motivation), yaitu karena didasarkan oleh misi atau tujuan hidupnya. Seseorang yang telah menemukan misi hidupnya bekerja berdasarkan nilai (values) yang diyakininya. Nilai-nilai itu bisa berupa rasa kasih (love) pada sesama atau ingin memiliki makna dalam menjalani hidupnya. Orang yang memiliki motivasi seperti ini biasanya memiliki visi yang jauh ke depan. Baginya bekerja bukan sekadar untuk memperoleh sesuatu (uang, harga diri, kebanggaan, prestasi) tetapi adalah proses belajar dan proses yang harus dilaluinya untuk mencapai misi hidupnya.
Dalam buku The One Minute Manager, kedua penulis (Kenneth Blanchard dan Spencer Johnson) merangkum topik bahasan kita mengenai motivasi ini dalam sebuah ilustrasi yang amat menarik mengenai Manajer Satu Menit. Untuk menjadi manajer yang efektif dan dapat memotivasi anak buah untuk mencapai sasaran perusahaan, maka ada tiga hal yang harus dilakukan.
Pertama adalah membangkitkan inner motivation dari orang yang dipimpinnya dengan menetapkan berbagi misi atau sasaran yang akan dicapai. Kita sebagai pemimpin perlu berbagi dengan tim kita untuk secara bersama melihat visi secara jelas dan mengapa kita melakukannya. Motivasi yang benar akan tumbuh dengan sendirinya ketika seseorang telah dapat melihat visi yang jauh lebih besar dari sekadar pencapaian target. Sehingga setiap orang dalam organisasi kita dapat bekerja dengan lebih efektif karena didorong oleh motivasi dari dalam dirinya.
Hal kedua dan ketiga yang perlu dilakukan oleh seorang manajer efektif adalah memberikan pujian yang tulus dan teguran yang tepat. Kita dapat membuat orang lain melakukan sesuatu secara efektif dengan cara memberikan pujian, dorongan dan kata-kata atau gesture yang positif. Bahkan dalam bukunya yang melegenda, Dale Carnegie (How to Win Friends and Influence People) menempatkan ini sebagai prisip pertama dan kedua dalam menangani manusia, yaitu: (1) jangan mengkritik, mencerca atau mengeluh, dan (2) berikan penghargaan yang jujur dan tulus. Manusia pada prinsipnya tidak senang dikritik, dicemooh atau dicerca, tetapi sangat haus akan pujian dan apresiasi. Tetapi kritik atau teguran yang tepat seringkali justru diperlukan untuk membangun tim kerja yang kokoh dan handal. Yang penting dalam menegur orang lain adalah bukan pada apa yang kita sampaikan tetapi cara menyampaikannya. Teguran yang tepat justru dapat menjadi motivasi dan menimbulkan reaksi yang positif.
Penelitian yang dilakukan dalam lima puluh tahun terakhir menunjukkan bahwa motivasi kerja tidak semata didasarkan pada nilai uang yang diperoleh (monetary value). Ketika kebutuhan dasar (to live) seseorang terpenuhi, maka dia akan membutuhkan hal-hal yang memuaskan jiwanya (to love) seperti kepuasan kerja, penghargaan, respek, suasana kerja , dan hal-hal yang memuaskan hasratnya untuk berkembang (to learn), yaitu kesempatan untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Sehingga akhirnya orang bekerja atau melakukan sesuatu karena nilai, ingin memiliki hidup yang bermakna dan dapat mewariskan sesuatu kepada yang dicintainya (to leave a legacy).
Pengertian Motivasi
Motivasi adalah keadaan dalam diri individu yang memunculkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Dengan kata lain menurut Kartini Kartono adalah dorongan terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) di sini dimaksudkan: desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup.
Sedangkan menurut Muslimin motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh organisasi.
Untuk menghindarkan kekurangtepatan penggunaan istilah motivasi ini, perlu dipahami pendapat M. Manullang tentang adanya istilah-istilah yang mirip dan sering dikacaukan tentang motivasi tersebut antara lain: motif, motivasi, motivasi kerja, dan insentif.
a. Motif
Kata motif disamakan artinya dengan kata-kata motive, motif, dorongan, alasan dan driving force. Motif adalah daya pendorong atau tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia bertindak. Dikatakan bahwa rumusan yang berbunyi motive are the way of behaviour adalah tepat. Artinya, mengapa timbul tingkah laku seseorang, itulah motive.
b. Motivasi
Motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan. Oleh karena itu tidak akan ada motivasi, jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan.
c. Motivasi kerja
Bertolak dari arti kata motivasi tadi, maka yang dimaksud dengan motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Atau dengan kata lain pendorong semangat kerja. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja menurut Ravianto adalah: atasan, rekan sekerja, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang dan non uang, jenis pekerjaan dan tantangan. Jadi motivasi individu untuk bekerja sangat dipengaruhi oleh sistem kebutuhannya.
d. Insentif
Istilah insentif (incentive) dapat diganti dengan kata: alat motivasi, sarana motivasi, sarana penimbulan motive atau sarana yang menimbulkan dorongan. Dengan pembatasan-pembatasan penggantian istilah-istilah tersebut diatas, dapatlah dihindari pengkacaubalauan penggunaan istilah yang menyangkut motivasi tersebut.
Sumber : (Wikipedia)
Sedangkan menurut Muslimin motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh organisasi.
Untuk menghindarkan kekurangtepatan penggunaan istilah motivasi ini, perlu dipahami pendapat M. Manullang tentang adanya istilah-istilah yang mirip dan sering dikacaukan tentang motivasi tersebut antara lain: motif, motivasi, motivasi kerja, dan insentif.
a. Motif
Kata motif disamakan artinya dengan kata-kata motive, motif, dorongan, alasan dan driving force. Motif adalah daya pendorong atau tenaga pendorong yang mendorong manusia untuk bertindak atau suatu tenaga di dalam diri manusia yang menyebabkan manusia bertindak. Dikatakan bahwa rumusan yang berbunyi motive are the way of behaviour adalah tepat. Artinya, mengapa timbul tingkah laku seseorang, itulah motive.
b. Motivasi
Motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan. Oleh karena itu tidak akan ada motivasi, jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi, dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan.
c. Motivasi kerja
Bertolak dari arti kata motivasi tadi, maka yang dimaksud dengan motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Atau dengan kata lain pendorong semangat kerja. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja menurut Ravianto adalah: atasan, rekan sekerja, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang dan non uang, jenis pekerjaan dan tantangan. Jadi motivasi individu untuk bekerja sangat dipengaruhi oleh sistem kebutuhannya.
d. Insentif
Istilah insentif (incentive) dapat diganti dengan kata: alat motivasi, sarana motivasi, sarana penimbulan motive atau sarana yang menimbulkan dorongan. Dengan pembatasan-pembatasan penggantian istilah-istilah tersebut diatas, dapatlah dihindari pengkacaubalauan penggunaan istilah yang menyangkut motivasi tersebut.
Sumber : (Wikipedia)
Selamat Datang di Blog Motivasi
Blog ini bertujuan untuk berbagi motivasi. Kita sadar, motivasi bisa merubah sesuatu yang kita inginkan. Motivasi adalah bahan bakar, motivasi adalah energi untuk menuju perubahan yang lebih baik. Terlebih dengan kondisi bangsa indonesia sekarang ini, yang tengah dilanda keterpurukan di segala bidang kehidupan, motivasi sangat diperlukan sekali. Saya ingin memberikan motivasi kepada setiap setiap orang agar mereka yang putus asa dalam kondisi bangsa yang tidak menentu ini menjadi memiliki semangat juang yang tinggi. Tentu saja saya ingin berbagi kepada setiap orang agar mudah-mudahan motivasi-motivasi yang saya tuliskan dalam blog ini bisa membangkitkan jutaan pembaca blog ini, saya ingin membangkitkan entrepreneur-entrepreneur baru di negeri ini. Tentu saja dimulai dengan langkah berbagi motivasi sesama kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)